Archive for July, 2008|Monthly archive page

MOS (Masa Orientasi Siswa)

“MOS”… Tyas yakin temen2 pernah ngalamin masa2 ini. Dimana saat kita mau masuk sekolah baru pasti ada MOS ini yang sering diartikan masa pengenalan siswa pada sekolah barunya. Nah cerita2 yuks, tentang masa2 ini. Pasti berbagai pengalaman dan cerita lulcu, sedih, jengkel dll pernah temen2 alami.

Nah kali ini tyas mo cerita soal MOS yang baru dialami oleh adekku (sebut saja). Dia baru akan masuk SMA, dan dua hari ini Kamis (10 Juli’08) dan Jumat (11 Juli’08) dia sedang menjalani MOS ini. Sebelum hari kamis itu, dibagikan kepadanya sebuah buku MOS yang berisi tata tertib dan apa yang harus dibawa saat MOS ini. Hari kamis ini aturannya adalah memakai baju seragam SMP dengan ikat pinggang ravia yang di anyam, rambut di ikat abis sesuai dengan bulan lahir (kebetulan adekku ini lahir bulan 10 jadi kuncir 10 dech), sepatu hitam dengan talinya adl tali rafia, dan kaos kakinya adalah kaos kaki bola – kaki kanan orange dan kiri biru, tas dari kaen putih dengan tali pramuka, membawa perkedel dan tempe goreng, jeruk 3 biji, membawa buku kosong dan masih ada lagi tapi aku lupa. Nah karna begitu ribetnya, aku dech ikut nyiap2in sampe paginya aku juga yang kuncir 10 (cape…dech…). Dan di hari kamis ini adekku ternyata terlambat akhirnya dihukum dech sama kakak2 angkatannya yang bertugas di MOS itu….

Hari jumat hampir sama aturannya, masih sama juga pagi2 mesti kuncir 10, cuman yang dibawa agak beda. Aku kurang memperhatikan. Begitulah MOS adekku ini.

Nah dulu jaman aku sekolah mau masuk SMA nggak ribet2 amat karna udah banyak kritikan tentang MOS sehingga nggak banyak yang mesti dibawa dan nggak aneh2. Cuman tradisi di SMU ku yaitu minta tanda tangan kakak angkatan dan guru2 sehingga terkumpul 500 tanda tangan selama 3 hari.. Lumayan cape juga nich. Dan di hari kedua MOS aku terlambat, hukumannya adalah minta tanda tangan 10 guru.. Malu juga dech dikerjain.

Inilah seni dan serunya masa2 MOS.. Nah giliran kalian cerita dunx masa2 itu…. OK?

Menulis di Atas Pasir

Kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.
Di tengah perjalanan mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tetapi dengan berkata – kata, dia menulis di atas pasir, “Hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku.”

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang untuk menyejukkan galaunya. Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah dia oleh sahabatnya. Ketika ia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu, ” Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku. “
Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya,
“Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di atas batu? “
Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita,
kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan apabila di antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apapun,
kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu.”

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masa lalu. Belajarlah menulis di atas pasir.